HARIANKOTA.CO, Sukoharjo – Suasana Lapangan Desa Pranan, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo, Jumat-Sabtu (5-6/9/2025) dipenuhi keceriaan ribuan warga yang antusias menyaksikan rangkaian Pranan Jambu Festival IV. Ajang tahunan ini kembali menghadirkan lomba-lomba unik yang merefleksikan tradisi petani jambu sekaligus menjadi pesta rakyat penuh kemeriahan.
Lomba yang paling menyita perhatian adalah balap sepeda antik bronjong sisih, yakni adu cepat menggunakan sepeda tua sambil membawa beban jambu seberat 20 kilogram hanya di satu sisi. Sebanyak 76 peserta turut ambil bagian, dan suasana semakin meriah ketika para wartawan pun ikut serta dalam lomba eksebisi.
Selain itu, festival juga dimeriahkan dengan lari memanggul bronjong berisi 40 kilogram jambu sejauh 100 meter. Sebanyak 33 peserta dengan usia peserta tertua 73 tahun unjuk kekuatan fisik sambil menghibur penonton. Total hadiah Rp25 juta diperebutkan dalam ajang yang diikuti ratusan peserta, baik dari Polokarto maupun daerah lain di Sukoharjo.
Kepala Desa Pranan, Sarjanto alias Jigong, menegaskan festival ini bukan sekadar lomba, melainkan cara melestarikan tradisi. “Dulu, para pedagang sepulang kulakan atau panen sering adu cepat pulang dengan sepeda membawa bronjong sebelah. Dari kebiasaan itulah lahir balap sepeda bronjong yang kini menjadi tradisi tahunan,” jelasnya.
Camat Polokarto, Hery Mulyadi, menyebut balapan ini unik sekaligus sarat nilai kearifan lokal. “Membawa beban berat hanya di satu sisi sepeda jelas tidak mudah. Inilah yang menjadikan lomba ini khas dan akan terus kami pertahankan sebagai agenda tahunan festival,” ujarnya.
Puncak festival akan ditutup dengan pawai jambu yang melibatkan ratusan warga menempuh rute sepanjang 15 kilometer. Warga Desa Pranan pun kian mantap menunjukkan identitasnya sebagai desa penghasil jambu air unggulan di Sukoharjo. (Sapto/SKH)



