menu search

Langka! Aksi Budaya ‘Kartasura Urunan Gawe Keris’ Jadi Sorotan Tokoh Masyarakat

Secara teknis dan filosofis, keris ini dibuat dengan memadukan unsur-unsur alam yang sarat makna spiritual.

Selasa, 30 Juni 2026, 21:31 WIB

HARIANKOTA.CO, Sukoharjo – Nuansa magis dan adiluhung menyelimuti kawasan cagar budaya bekas Keraton Kartasura pada Selasa 30 Juni 2026, siang. Tiga empu keris bersama para pegiat budaya berkumpul dalam sebuah aksi nyata bertajuk “Kartasura Urunan Gawe Keris”.

Agenda budaya yang melahirkan kembali seni tempa pusaka di tanah bersejarah Mataram ini mendapat sorotan dan apresiasi langsung dari sejumlah tokoh budaya, eksekutif, hingga legislatif.

Anggota Komisi IV DPRD Sukoharjo, Reza Rizky Ramadhan, yang hadir dalam acara memberikan dukungan penuh sekaligus melayangkan dorongan kuat kepada Pemerintah Kabupaten Sukoharjo. Ia menegaskan bahwa pelestarian warisan nenek moyang seperti ini tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri tanpa kehadiran negara.

“Ini adalah langkah nyata yang sangat positif. Keris bukan sekadar benda, melainkan seni penempaan tingkat tinggi warisan leluhur Mataram yang berada di Sukoharjo. Kegiatan seperti ini seharusnya bisa dilakukan secara lebih sering dan konsisten untuk nguri-uri kebudayaan kita,” ujar Reza.

Sebagai anggota komisi yang membidangi lini kebudayaan, Reza meminta dengan tegas agar dinas terkait di Kabupaten Sukoharjo tidak pasif. Menurutnya, pemerintah daerah wajib ikut andil secara strategis, baik dalam bentuk fasilitasi anggaran, ruang berekspresi, maupun perlindungan terhadap para pelaku seni tradisi.

Ia menilai, aktivitas pembuatan keris yang kini mulai langka di Sukoharjo memiliki potensi luar biasa menjadi destinasi wisata jika dikemas secara serius.

“Potensi budaya ini punya nilai seni tinggi yang bisa dikembangkan menjadi daya tarik pariwisata daerah. Jika dikelola baik, masyarakat luar Sukoharjo akan berbondong-bondong datang untuk melihat proses pembuatan keris yang unik ini. Ini bisa jadi magnet wisata budaya baru,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Reza menegaskan bahwa Komisi IV DPRD Sukoharjo berkomitmen mengawal kegiatan pelestarian budaya ini dari sisi kebijakan. Ia membuka pintu lebar-lebar bagi siapapun yang memiliki komitmen dalam pelestarian budaya untuk datang ke gedung dewan guna melakukan dengar pendapat.

“Kami sangat terbuka untuk berdiskusi dan menerima masukan langsung dari para pegiat budaya di lapangan. Sinergi ini penting agar aspirasi para pelaku budaya bisa kita tuangkan dalam kebijakan daerah demi memajukan pariwisata berbasis sejarah dan budaya di Kabupaten Sukoharjo,” pungkasnya.

Sementara, KRAT Muhammad Budiman Adinegoro (Budi AJM) selaku pemrakarsa acara, menjelaskan filosofi mendalam di balik tajuk ” Kartasura Urunan Gawe Keris”.

“Istilah “urunan” bukan sekadar patungan materi, melainkan sebuah manifestasi dari kumpulan doa masyarakat Kartasura yang diwujudkan dalam bentuk sebilah keris,” terangnya.

Ia menjelaskan, secara teknis dan filosofis, keris ini dibuat dengan memadukan unsur-unsur alam yang sarat makna spiritual.

“Unsur bumi, diwakili oleh bahan besi dan tembaga yang berasal dari dalam tanah. Unsur langit, diwakili oleh penggunaan batu meteor yang jatuh dari angkasa. Jadi, unsur langit dan bumi kita satukan, lalu kita ekspresikan dalam wujud keris tersebut,” jelas Budi.

Lebih lanjut, Budi memaparkan bahwa keris Kartasura ini akan diberi pamor “Beras Wutah” dan “Udan Mas”. Pemilihan pamor ini mengandung doa dan harapan agar wilayah Kartasura senantiasa diberikan kemakmuran, kemudahan pangan, serta rezeki yang melimpah (gemah ripah loh jinawi).

“Kami berharap keris ini bisa menjadi simbol atau lambang kebanggaan Kartasura, berkaca pada sejarah Keraton Surakarta yang memiliki pusaka Tombak Kiai Slamet pemberian dari Ponorogo yang hingga kini terus dikirab setiap malam 1 Suro,” pungkasnya. (SKH)

Berita Lainnya

Berita Terkini

arrow_upward