HARIANKOTA.CO, Solo— Gelombang kegeraman dari masyarakat Solo terus menguat pasca aksi demonstrasi yang berujung pada tindakan anarkis, Jum’at (30/8/2025) malam.
Kerusuhan yang menghanguskan sebagian gedung Setwan DPRD, merusak taman kota, dan membakar pos polisi, tidak hanya menyisakan puing-puing, tetapi juga luka sosial yang dalam. Kali ini, peringatan tegas datang dari tokoh masyarakat yang dikenal vokal, BRM Kusumo Putro.
Kusumo, yang juga dikenal sebagai aktivis pergerakan dengan rekam jejak memimpin aksi damai, mengecam keras perusakan yang mencoreng wajah demokrasi dan merusak citra Kota Solo sebagai kota budaya.
“Kami tidak melarang unjuk rasa. Tapi ketika demo berubah menjadi tindakan anarkis, merusak fasilitas umum, membuat warga Solo ketakutan, itu adalah bentuk penghinaan terhadap kota ini!”tegas Kusumo.
Ia menyebut aksi tersebut sebagai upaya sistematis dari kelompok tak bertanggung jawab untuk mengacaukan ketentraman Solo. Kusumo juga menyampaikan kekhawatiran bahwa keharmonisan sosial yang dibangun bertahun-tahun bisa lenyap seketika akibat provokasi destruktif.
“Branding Kota Solo yang dibangun selama puluhan tahun tentang toleransi, kesantunan, dan keberagaman, nyaris hancur dalam satu malam,” ujarnya geram.
Namun, yang paling mencolok adalah peringatan keras Kusumo kepada siapa pun yang berniat memicu kekacauan lagi di Solo.
“Jika aksi seperti ini terjadi lagi dan merusak ketenteraman warga, jangan salahkan kami kalau masyarakat Solo akan bergerak sendiri. Kami tidak akan diam!” ucapnya tegas.
Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa masyarakat kini tidak lagi akan tinggal diam jika Solo kembali dijadikan arena kerusuhan. Kusumo menegaskan bahwa gerakan masyarakat bukan untuk kepentingan politik atau kelompok tertentu, tetapi demi menjaga kedamaian kota.
“Kami tidak berpihak kepada siapa pun. Kami hanya ingin kota kami aman, damai, dan tenteram,” lanjutnya.
Meski mengecam aksi anarkis, Kusumo juga memberi pesan penting kepada aparat kepolisian agar tidak menggunakan pendekatan kekerasan dalam menangani aksi demonstrasi.
“Saya minta polisi jangan represif. Jangan gunakan senjata untuk menyakiti masyarakat. Hadapi dengan cara yang lebih bijak, karena yang kalian hadapi bisa jadi adik-adik kita sendiri,”pesannya.
Ia juga mengingatkan pemerintah untuk tidak sekadar menyalahkan massa, tetapi berani melakukan introspeksi.
“Pemerintah harus berbenah. Kalau ada kesalahan di DPR atau lembaga manapun, akui dan perbaiki. Jangan hanya berbicara, tapi buktikan lewat tindakan nyata,” tutup Kusumo.
Peringatan ini menjadi sinyal kuat dari masyarakat sipil bahwa Solo tidak boleh kembali rusuh. Kota budaya ini, menurut Kusumo dan banyak tokoh lain, harus dijaga dari tangan-tangan perusak yang bersembunyi di balik label demokrasi. (Sapto/ SLO)







