HARIANKOTA.CO, Solo — Suasana Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo mendadak bergemuruh saat grup musik Berlyn N Friends naik panggung dalam gelaran Emparty Fest #1, Kamis (6/8/2026) malam.
Membawakan sejumlah lagu populer yang akrab di telinga masyarakat, grup musik asal Solo yang tengah naik daun itu sukses menghidupkan suasana. Lagu Koyo Jogya Istimewa milik Ndarboy Genk menjadi salah satu lagu yang mengundang antusiasme penonton.
Ratusan penonton larut dalam berbagai lagu yang dimainkan. Sebagian ikut bernyanyi dan berjoget bersama Berlyn sang vokalis, membuat gelaran seni yang berlangsung semakin semarak.
Namun, di balik kemeriahan panggung, para seniman Solo justru menyuarakan persoalan serius. Mereka mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta segera merealisasikan pembangunan gedung kesenian dan kebudayaan yang representatif.
Desakan tersebut mengemuka dalam rangkaian Emparty Fest #1 yang digelar selama tujuh hari, 4-10 Agustus 2026. Selain pertunjukan musik, kegiatan tersebut menghadirkan pameran lukisan, fotografi artistik, seni tempa keris, seni patung, serta pertunjukan tari.
Ketua DPW Seniman Merdeka Indonesia Jawa Tengah sekaligus kurator pameran, Gigih Wiyono, mengatakan pembangunan gedung kesenian sudah menjadi kebutuhan mendesak bagi Solo yang menyandang identitas sebagai kota budaya.
Menurutnya, Solo memiliki sumber daya seniman yang melimpah. Perguruan tinggi seni juga terus melahirkan generasi baru, tetapi perkembangan tersebut belum dibarengi penyediaan ruang berkesenian yang memadai.
“Solo ini kota budaya dan kota seniman yang setara dengan Yogyakarta. Kampus-kampus seni terus melahirkan alumni dan seniman hebat, tetapi kita tidak punya tempat (gedung kesenian) sendiri yang representatif,” ujar Gigih.
Selama ini, kata dia, berbagai kegiatan seni dan pameran masih mengandalkan fasilitas TBJT yang merupakan aset Pemprov Jateng. Kondisi tersebut membuat seniman harus mengikuti mekanisme birokrasi dan terkadang menghadapi antrean penggunaan fasilitas.
Gigih mendorong Pemkot Surakarta membangun gedung kesenian terintegrasi yang tidak hanya menyediakan ruang pertunjukan dan pameran, tetapi juga pasar seni untuk mempertemukan seniman dengan masyarakat.
“Sudah seharusnya Pemkot Solo menyediakan gedung kesenian terintegrasi yang mencakup ruang pameran, ruang pertunjukan, hingga pasar seni untuk menampung karya seniman,” tegasnya.
Desakan serupa disampaikan Koordinator Pelukis Solo Raya, Edi Sudarno atau Edi Semar. Ia menyebut para seniman tidak akan berhenti memperjuangkan hadirnya fasilitas kesenian permanen di Kota Solo.
Menurut Edi, ketiadaan ruang berkesenian yang representatif tidak hanya menyulitkan seniman dalam berkarya, tetapi juga berpotensi menghambat regenerasi pelaku seni.
“Kami prihatin karena janji pemerintah daerah dari periode ke periode belum juga terealisasi. Perjuangan kami ini tidak akan berhenti demi adik-adik seniman muda generasi penerus. Solo harus punya galeri dan gedung kesenian sendiri sebagai tempat napak tilas dan ruang berkarya,” katanya.
Dukungan terhadap tuntutan seniman juga disampaikan Ketua Dewan Pemerhati dan Penyelamat Seni Budaya Indonesia (DPPSBI), BRM Kusumo Putro. Ia menilai gedung kesenian dan kebudayaan bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan utama untuk mempertahankan identitas Solo sebagai kota budaya.
“Kami minta Pemkot Surakarta mendengarkan jeritan para pelaku seni dan mengalokasikan anggaran atau kebijakan nyata demi terwujudnya fasilitas kesenian terpadu di Solo,” tegas Kusumo.
Emparty Fest #1 sendiri menjadi ruang pertemuan berbagai ekspresi seni. Pameran yang berlangsung hingga 10 Agustus 2026 itu tidak hanya menampilkan karya lukis, tetapi juga fotografi artistik, seni tempa keris, patung, tari, dan musik.
Kemeriahan penampilan Berlyn N Friends menjadi salah satu daya tarik acara. Di tengah sorotan tentang minimnya fasilitas kesenian, panggung Emparty Fest justru memperlihatkan besarnya antusiasme masyarakat terhadap karya dan pertunjukan seni.
Bagi para seniman, antusiasme tersebut menjadi pengingat bahwa Solo memiliki ekosistem seni yang hidup. Kini, mereka menunggu langkah konkret pemerintah kota agar geliat seni itu memiliki rumah sendiri.(SLO)







