menu search

Tirakatan 17 Agustus di Sukoharjo, Warga Beda Etnis Bersatu Kenang Jasa Pahlawan

Warga menjadikan momentum kemerdekaan sebagai pengingat untuk ikut mengisi pembangunan

Minggu, 16 Agustus 2026, 22:14 WIB

HARIANKOTA.CO, Sukoharjo— Di bawah cahaya lampu dan dekorasi merah putih, puluhan warga Perumahan Sektor 9, Desa Gedangan, Grogol, Sukoharjo, duduk lesehan di depan pos ronda, Minggu (16/8/2026) malam.

Mereka berkumpul bukan sekadar menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI, tetapi mengingat kembali arti perjuangan dan pentingnya menjaga persatuan.

Warga RT 05 RW 05 membawa tumpeng dan jajanan tradisional untuk mengikuti malam tirakatan. Doa bersama, renungan kemerdekaan, hingga ramah tamah menjadi rangkaian acara yang berlangsung mulai pukul 20.00 WIB.

Bagi warga, tirakatan memiliki makna lebih dalam daripada seremoni tahunan. Pranoto alias Don Peng, warga keturunan Tionghoa, mengatakan semangat kemerdekaan harus tetap dirawat, terlebih lingkungan tempat tinggalnya dihuni masyarakat dari beragam latar belakang.

“Semangat kemerdekaan harus tetap terjaga. Apalagi kita hidup di perumahan dari berbagai etnis,” kata Pranoto.

Doa bersama dipimpin Ary Christono. Ia mendoakan keselamatan warga sekaligus berharap Indonesia semakin maju, damai, serta masyarakat selalu diberikan kesehatan.

Ketua RT 05 RW 05 Satino kemudian mengajak warga menjadikan momentum kemerdekaan sebagai pengingat untuk ikut mengisi pembangunan. Menurut dia, kebebasan yang dinikmati saat ini tidak lepas dari pengorbanan para pahlawan.

“Kita tirakatan ini bukan hanya seremonial. Tapi untuk mengingat jasa pahlawan dan mendoakan bangsa agar dijauhkan dari perpecahan,” ujar Satino.

Suasana semakin hangat ketika tumpeng dipotong dan warga menikmati hidangan bersama. Tahun ini, lingkungan tersebut mengangkat tema “Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur”, yang terlihat dari dekorasi lampu, umbul-umbul, serta dominasi warna merah putih.

Kesaksian para sesepuh desa juga menjadi bagian yang menyentuh dalam acara tersebut. Damas, anggota Polsek Baki sekaligus warga Gedangan, mengingatkan bahwa perjuangan merebut kemerdekaan dahulu harus dibayar dengan pengorbanan besar.

“Dulu merdeka itu pakai darah. Sekarang kita isi dengan kerja dan persatuan,” kata Damas.

Pesan itu seolah menjadi benang merah malam tirakatan. Jika generasi terdahulu berjuang merebut kemerdekaan, generasi sekarang memiliki tugas menjaganya melalui kerja, persatuan, dan kepedulian terhadap sesama.

Tirakatan ditutup sekitar pukul 22.30 WIB. Warga berdiri bersama menyanyikan lagu “17 Agustus 1945” dan “Indonesia Raya”.

Malam pun berakhir, tetapi pesan kemerdekaan tetap tinggal: berbeda latar belakang bukan alasan untuk terpisah. Di bawah Merah Putih, warga memilih duduk bersama, berdoa bersama, dan merawat persatuan dari lingkungan paling dekat.(SKH)

 

Berita Lainnya

Berita Terkini

arrow_upward