menu search

Tingginya Angka Kematian Ibu Hamil Jadi Sorotan, Kesehatan Mental Jadi Kunci Penanganan

Kehamilan tidak direncanakan menjadi pemicu utama gangguan mental yang kemudian berkontribusi pada komplikasi kehamilan

Rabu, 27 Agustus 2025, 19:20 WIB

HARIANKOTA.CO, Sukoharjo– Angka kematian ibu hamil di Indonesia masih berada pada level yang mengkhawatirkan. Persoalan ini menjadi sorotan serius Prof. Dr. Yuli Kusumawati, SKM., M.Kes, Guru Besar bidang Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Ia menekankan bahwa penanganan kesehatan ibu selama kehamilan tidak cukup hanya fokus pada aspek fisik, melainkan harus memperhatikan kesehatan mental yang selama ini sering terabaikan.

“Data kematian ibu hamil yang masih tinggi menunjukkan ada faktor mendasar yang belum tertangani dengan baik, termasuk kesehatan mental ibu,” ujar Yuli, Rabu (27/8/2025).

Menurut Yuli, pemeriksaan kehamilan di banyak fasilitas kesehatan, terutama Puskesmas, masih terpusat pada kondisi fisik seperti anemia dan gizi. Namun, belum ada perhatian serius pada kondisi psikologis ibu, seperti tingkat stres, kecemasan, hingga depresi yang nyata dialami banyak ibu hamil.

Salah satu penyebab penting yang ditemukan adalah kehamilan yang tidak direncanakan. Baik kehamilan yang tidak dikehendaki sama sekali, maupun bagi pasangan yang sebenarnya sudah merasa cukup anak, kondisi ini meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental yang dapat memperparah risiko kematian ibu.

“Kehamilan tidak direncanakan menjadi pemicu utama gangguan mental yang kemudian berkontribusi pada komplikasi kehamilan dan risiko kematian ibu yang lebih tinggi,” jelasnya.

Untuk mengatasi persoalan ini, Yuli mengembangkan model skrining kesehatan mental khusus bagi ibu hamil. Tujuannya adalah mendeteksi gangguan mental sedini mungkin agar tenaga kesehatan bisa memberikan penanganan tepat, mulai dari konseling bidan, psikolog, hingga rujukan ke layanan kesehatan jiwa.

“Deteksi dini kesehatan mental sangat krusial agar intervensi bisa diberikan cepat. Ini tidak hanya menyelamatkan ibu, tapi juga memastikan janin tumbuh sehat,” kata Yuli.

Selain intervensi medis, Yuli juga menekankan pentingnya dukungan sosial dari keluarga, masyarakat, dan tenaga kesehatan. Edukasi dan pendampingan berkelanjutan dinilai efektif mengurangi risiko depresi, yang selama ini berkontribusi pada tingginya angka kematian ibu.

“Generasi masa depan yang sehat lahir dari ibu yang sehat secara fisik dan mental. Oleh karena itu, skrining kesehatan mental harus menjadi bagian wajib dalam layanan Antenatal Care (ANC),” tegasnya.

Yuli berharap pendekatannya dapat memperkuat upaya nasional menekan angka kematian ibu sekaligus mencegah stunting, demi masa depan generasi yang lebih sehat dan berkualitas.(Sapto/ SKH)

 

Berita Lainnya

Berita Terkini

arrow_upward