HARIANKOTA.CO, Sukoharjo — Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) meraih medali perunggu di Japan Design, Idea and Invention Expo (JDIE) 2026 berkat inovasi alat penyiapan obat otomatis berbasis Internet of Things (IoT).
Inovasi bernama PharmaSwift: Reducing Waits, Delivering Care tersebut dirancang untuk mempercepat proses penyiapan obat sesuai resep dokter sekaligus mengurangi waktu tunggu pasien di fasilitas kesehatan.
Ketua tim pengembang, Satria Gemilang Kusuma Perdana dari Program Studi Teknik Mesin UMS, mengatakan PharmaSwift berawal dari keresahan terhadap proses penyiapan obat secara konvensional yang membutuhkan waktu cukup lama karena apoteker harus mengambil obat satu per satu sesuai resep.
“Ketika melakukan pemeriksaan kesehatan, waktu tunggu atau peracikan obat memakan waktu cukup lama. Dari situ, kami berpikir bagaimana membuat alat yang bisa menyiapkan obat berdasarkan resep,” jelas Gemilang, Selasa (13/10/2026).
PharmaSwift dikembangkan oleh tim lintas disiplin yang terdiri atas Maulia Hidayah dari Program Studi Gizi, Muhammad Akmal Indratma dari Teknik Mesin, Faiz Al Erza dari Kedokteran, Bilqis Khans dari Teknik Industri, serta Dani Hendrawan dari Farmasi. Pengembangan inovasi ini turut mendapat bimbingan Ir. Muhammad Al Fatih Hendrawan, S.T., M.T.
Secara teknis, PharmaSwift menggunakan mikrokontroler ESP32 sebagai pusat kendali, dilengkapi sejumlah sensor untuk memantau kondisi udara, kelembapan, jumlah obat yang dikeluarkan, serta komponen pendukung sterilisasi.
Alat ini juga dirancang terintegrasi dengan inovasi MedLink Smart untuk mendukung pelayanan kesehatan, mulai dari registrasi pasien hingga penyiapan obat berdasarkan resep dokter.
Dalam sistem tersebut, dokter memasukkan informasi kondisi pasien dan resep melalui situs web. Resep kemudian diperiksa oleh apoteker sebelum dikirimkan ke perangkat PharmaSwift untuk diproses secara otomatis.
Gemilang menegaskan, teknologi tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran apoteker. Tenaga farmasi tetap bertanggung jawab memverifikasi resep, memastikan ketepatan dosis berdasarkan usia dan kondisi pasien, serta mempertimbangkan kemungkinan alergi obat.
Setelah resep dinyatakan sesuai, perangkat menyiapkan obat melalui mekanisme penyaluran ke baki atau tray. Otomatisasi ini diharapkan membantu apoteker bekerja lebih efisien dan memberikan perhatian lebih pada verifikasi resep serta keamanan pasien.
Tim mengembangkan PharmaSwift selama sekitar tiga bulan, mulai dari perumusan gagasan hingga pembuatan perangkat. Meski berhasil meraih penghargaan internasional, mereka menilai masih diperlukan waktu tambahan untuk menyempurnakan sistem dan meningkatkan kemampuan alat.
“Persiapan tiga bulan itu masih terlalu mepet untuk kami. Kalau bisa diberi waktu lebih lama lagi, mungkin kami akan mengembangkan PharmaSwift lebih lanjut,” pungkas Gemilang.(SKH)








