HARIANKOTA.CO, Solo — Kerusuhan dan pembakaran gedung Setwan DPRD Surakarta yang terjadi Sabtu (30/8/2025) malam hingga Minggu (31/8/2025) pagi, ternyata melibatkan puluhan orang yang bukan warga asli Solo.
Aparat kepolisian Polresta Surakarta telah mengamankan total 80 orang yang diduga pelaku provokasi dan perusakan fasilitas umum, mayoritas berasal dari luar kota.
Kapolresta Surakarta, Kombes Pol Catur Cahyono Wibowo, secara tegas menyebut kelompok ini sebagai ‘Anarko’, yang sengaja datang dari luar Solo untuk memicu kekacauan dan merusak citra kota budaya ini.
Dari 80 orang yang diamankan, 65 di antaranya berasal dari wilayah Sragen, Sukoharjo, dan daerah lain, diduga hadir akibat pengaruh sebaran informasi di media sosial.
“Kelompok ini berniat membuat Kota Solo tidak aman dan memprovokasi warga lokal agar terlibat dalam aksi perusakan fasilitas umum,”ujar Kapolresta,dikutip pada Senin (1/9/2025).
Sebanyak 65 orang tersebut diamankan di sejumlah titik strategis, salah satunya depan Gedung DPRD Surakarta. Mereka sebagian besar adalah pelajar dari tingkat SMP, SMA, bahkan ada yang sudah putus sekolah.
Petugas pun melibatkan sekolah dan orang tua mereka untuk memberikan pembinaan sekaligus pemeriksaan lebih lanjut di Satreskrim Polresta.
Selain itu, sebelum pengamanan besar-besaran, pihak kepolisian sudah terlebih dahulu menangkap 15 orang lain yang juga bukan warga Solo dan terbukti membawa senjata tajam. Mereka langsung dijerat dengan Undang-Undang Darurat karena membawa senjata berbahaya.
“Kami tindak tegas siapa pun yang melanggar hukum. Tapi kami juga memberi pembinaan kepada pelajar yang hanya ikut-ikutan dan tidak tahu tujuan sebenarnya,” kata Kapolresta.
Kapolresta mengimbau warga Solo agar tidak terprovokasi kelompok yang berniat merusak kedamaian kota dan memicu kerusuhan. Ia menegaskan bahwa keamanan Solo tetap menjadi prioritas utama pihak kepolisian dan pemerintah daerah. (SLO)







