HARIANKOTA.CO, Solo– Fenomena suhu dingin yang dikenal dalam bahasa Jawa dengan istilah ‘bediding’, beberapa hari terakhir sedang melanda Pulau Jawa, termasuk wilayah Solo Raya.
Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Drs. Yuli Priyana, M.Si., menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan kejadian tahunan yang sering terjadi pada musim kemarau, tepatnya antara Juli hingga September.
“Mengutip penjelasan BMKG Stasiun Klimatologi (Stalkim) Jawa Timur, fenomena ‘bediding’ dipicu oleh Angin Timuran yang datang dari Australia,” kata Yuli dalam keterangannya, dikutip pada Senin (21/7/2025).
Angin dingin ini terbentuk akibat musim dingin di belahan bumi selatan yang mengarah ke Indonesia, khususnya wilayah Pulau Jawa bagian selatan, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, serta Bali. Fenomena ini disebabkan oleh perbedaan suhu dan tekanan udara antara Indonesia dan Australia.
Australia yang sedang mengalami musim dingin dengan suhu rendah memiliki tekanan udara tinggi, sedangkan Indonesia, yang lebih dekat dengan matahari, mengalami suhu yang lebih tinggi dengan tekanan udara rendah.
“Akibatnya, angin dari Australia bergerak menuju wilayah Indonesia, menciptakan suhu dingin di pagi hari. Selain itu, minimnya awan di musim kemarau menyebabkan radiasi matahari langsung ke permukaan bumi,” paparnya.
Pada malam hari, panas yang tersimpan cepat dilepas ke atmosfer, membuat udara malam menjadi lebih dingin, dan ‘bediding’ terasa lebih kuat hingga pagi hari.
Meskipun banyak yang mengaitkan ‘bediding’ dengan fenomena aphelion, Yuli menegaskan bahwa keduanya tidak saling berkaitan. Aphelion, yaitu saat bumi menjauh dari matahari, tidak memiliki dampak signifikan terhadap suhu pada fenomena ini.
“Fenomena ‘bediding’ juga berdampak pada kesehatan, karena udara dingin dapat menurunkan daya tahan tubuh, membuat seseorang lebih rentan terhadap penyakit,” ujarnya.
Yuli menyarankan masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh dengan mengenakan pakaian hangat, menjaga pola makan yang sehat, dan mengonsumsi minuman hangat selama fenomena ini. Meskipun alami, fenomena ‘bediding’ tetap perlu diwaspadai agar tidak mengganggu kesehatan. (SLO)








