menu search

Festival Jambu Pranan Dongkrak Ekonomi Desa, Panen hingga 20 Ton

Jambu air kini telah menjadi tulang punggung ekonomi desa

Senin, 01 September 2025, 22:14 WIB

HARIANKOTA.CO, Sukoharjo – Warga Desa Pranan, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo, semakin merasakan manisnya hasil menanam jambu air. Melalui tradisi tahunan Festival Jambu Pranan, bukan hanya kearifan lokal yang terjaga, tetapi juga perekonomian warga yang kian meningkat berkat melimpahnya panen buah khas desa tersebut.

Festival yang digelar pada 5–7 September 2025 ini menjadi simbol syukur sekaligus strategi desa dalam mengembangkan agrowisata berbasis potensi lokal. Ragam kegiatan unik, seperti balapan memanggul jambu, lomba sepeda membawa bronjong, hingga karnaval jambu, berhasil menyedot perhatian sekaligus mempererat kebersamaan warga.

Kepala Desa Pranan, Sarjanto atau akrab disapa Jigong, menegaskan bahwa jambu air kini telah menjadi tulang punggung ekonomi desa. Dalam sekali musim panen, yang berlangsung tiga hingga empat kali setahun, warga mampu menghasilkan hingga 20 ton jambu air hanya dalam sepekan.

“Jambu air ini sudah jadi tanaman wajib hampir di setiap rumah. Minimal ada dua sampai tiga pohon di halaman warga. Hasilnya bisa membantu perekonomian keluarga,” ujar Jigong, Senin (1/9/2025).

Jambu air Pranan dikenal dengan ukuran besar dan warna merah segar. Buah ini telah dipasarkan hingga Bandung dan Jakarta dengan harga Rp13 ribu–15 ribu per kilogram, sementara pembelian langsung dari kebun berkisar Rp9 ribu–10 ribu per kilogram.

Tak berhenti di panen, pemerintah desa kini menyiapkan lahan kas desa seluas 10 hektar untuk dikembangkan menjadi kebun wisata petik jambu. Langkah ini diharapkan menjadikan Pranan sebagai destinasi utama agrowisata sekaligus memperkuat branding desa sebagai kampung jambu air.

Camat Polokarto, Hery Mulyadi, yang hadir dalam kegiatan panen, menyambut positif langkah warga. “Festival ini wajib didukung. Selain memperkuat identitas Desa Pranan sebagai penghasil jambu, dampaknya sangat terasa pada ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Dengan festival yang rutin digelar dan pengembangan wisata berbasis hasil bumi, Desa Pranan kini semakin dikenal sebagai contoh sukses desa yang mampu bangkit secara ekonomi dari potensi lokalnya sendiri.(Sapto/ SKH)

Berita Lainnya

Berita Terkini

arrow_upward