menu search

UMS Luncurkan Kampung Wakaf Air di Sragen, Solusi Cerdas Atasi Krisis Air Bersih Pegunungan

Pengelolaan sistem air mandiri atau PAMMU yang dikelola oleh paguyuban warga binaan PCM dan LazisMu pun mulai menunjukkan hasil positif

Selasa, 12 Agustus 2025, 13:21 WIB

HARIANKOTA.CO, SragenUniversitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) meluncurkan program inovatif “Kampung Wakaf Air” di Dusun Dlisen, Desa Kadipiro, Kecamatan Sambirejo, Sragen.

Inisiatif ini hadir sebagai jawaban konkret atas krisis air bersih yang kerap melanda wilayah pegunungan, sekaligus memperkenalkan teknologi mutakhir dan pemberdayaan masyarakat dalam satu paket solusi.

Program hasil kolaborasi Fakultas Geografi UMS dengan dukungan pendanaan dari Direktorat Riset, Pengabdian kepada Masyarakat, Publikasi, dan Sentra KI (DRPPS) UMS ini menggandeng Lazismu Sragen, PCM Sambirejo, dan Paguyuban Ambiya’30.

Mereka bersama-sama mengimplementasikan sistem air bersih mandiri berbasis wakaf produktif yang menjanjikan keberlanjutan dan dampak sosial-ekonomi nyata.

Ketua Pelaksana Jumadi menyoroti keunggulan teknologi yang digunakan, yakni sistem ozoniser dan tangki stainless, yang mampu mensterilkan air secara efektif tanpa menggunakan bahan kimia berbahaya.

“Teknologi ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga menjaga kualitas air dari kontaminasi bakteri secara efisien,” ujarnya dalam keterangan resmi Selasa (12/8/2025).

Wilayah Dusun Dlisen dengan topografi cekung (ledok) selama ini kesulitan mendapatkan akses air layak konsumsi yang memadai. PDAM pun tak mampu menjangkau area ini.

Melalui riset ketat yang dilakukan dosen dan mahasiswa UMS, satu sumber air ditemukan layak konsumsi setelah serangkaian uji laboratorium dan pemetaan distribusi. Infrastruktur awal pun dibangun dengan dana dari LazisMu Sragen dan kerja sama gotong royong warga setempat.

Pada 30 Juli 2025 lalu, fasilitas air minum dengan merek lokal “Enbia” resmi diserahkan kepada masyarakat. Produk ini menjadi simbol lahirnya kemandirian ekonomi dan sosial berbasis komunitas, sekaligus memperkuat semangat wakaf produktif yang melekat dalam program.

“Ini bukan sekadar menyediakan air bersih. Kami ingin Kampung Wakaf Air menjadi model pengelolaan mandiri yang berkelanjutan, sekaligus penggerak ekonomi warga,” kata Jumadi, yang juga Dekan Fakultas Geografi UMS.

Program ini juga mengakomodasi peran aktif mahasiswa sebagai ujung tombak riset dan implementasi lapangan, memberikan mereka ruang belajar langsung sekaligus membangun kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga sumber daya air.

Pengelolaan sistem air mandiri atau PAMMU yang dikelola oleh paguyuban warga binaan PCM dan LazisMu pun mulai menunjukkan hasil positif.

Dampak sosial-ekologis program sudah terlihat jelas, warga lebih peduli menjaga sumber air, solidaritas dan semangat gotong royong meningkat. Fakultas Geografi UMS pun siap mengembangkan model ini ke wilayah lain yang mengalami krisis serupa. Komunikasi awal dengan daerah seperti Wonogiri dan Boyolali tengah berjalan.

“Kami optimis Kampung Wakaf Air menjadi blueprint solusi air bersih yang bisa direplikasi luas, memperkuat ketahanan pangan dan sosial masyarakat desa,” tutup Jumadi. (SRG)

 

Berita Lainnya

Berita Terkini

arrow_upward